Pages

Ads 468x60px

Photobucket

catper LDK cipanas

Rihlah fi Sabilillah
(Catatan Perjalanan Forum Silaturahim Pemuda to Cipanas,
Mengenal Arti Sebuah Kepemimpinan Diri)

Memorable Adventuria AMMI,
Dalam lecutan cambuk Ilahy…

Alhamdulillah segala puji bagi-NYA yang hidup di atas kita sebagai pengatur dan Pembina alam semesta dan penyelaras dari setiap sejarah hidup manusia sehingga IA telah mengatur rapi skenario-NYA yang mencengangkan kami semua. Panitia LDK FSP MIK (Latihan Dasar Kepemimpinan, Forum Silaturahim Pemuda Misi Islam Kaffah) pagi itu sudah sedikit pusing (kalau ngga ingin disebut putus asa). Sebab lokasi yang sudah kami survey menemui kegagalan dua kali, berkaitan hal-hal teknis dan administrasi. Salah satunya juga surat izin tembusan ke Polres yang—rumornya— sudah diketahui bahwa para narasumber dan pembicara yang mengisi materi di acara LDK ini adalah orang-orang yang sudah mendapat list di kepolisian sebagai tokoh garis keras (Munarman, Muhamad Al-Khothoth dan H. Encep Hernawan). Padahal kamis kemarin saya dan Mustain sampai harus rela diguyur hujan seharian untuk mengkonfirmasi keberangkatan dan penjemputan narasumber/ ustadz juga tempat yang akan digunakan, yaitu Villa Orchid. Malam-malamnya batuk saya tambah kumat, tapi Alhamdulillah tidak masuk angin jadi tidak dikerokin sampe merah-merah punggung saiya (satu hal yang paling tidak saiya sukain).
Dengan seluruh pengerahan daya dan upaya, sempat terpikir di tengah jalan bahwa usaha kami –yang sudah kami rencanakan sejak 3 bulan lalu— akan menemukan banyak kendala. Namun selalu ada rasa optimisme (Roja’) di bahu kiri kami dan kekuatan Allah di bahu kanan kami serta hembusan bisik malaikat-NYA yang senantiasa akan menyertai orang yang sabar dan tawakkal. Sebab, sabar bagi kami bukanlah diam dan menyerah, namun sabar adalah terus berusaha hingga berkali-kali kau jatuh dan kau tetap berani untuk bangkit melawan nasib hingga Allah membukakan jalan-NYA dan pintu kebahagiaan itu menanti di depan mata.
Berbekal modal keyakinan, kami percaya bahwa acara LDK FSP MIK yang digagas bagian pembinaan dan kaderisasi AMMI dan digarap tim acara akan sukses. Jika gagal, maka saiya tak ingin nama baik tandzim Misi Islam jelek karena beban tanggung jawab yang diamanahkan tidak dijalankan sebagai mana mestinya. Kamis malam kami mendapat kabar bahwa tempat yang akan disewa sudah fix. Esok hari, pada jum’at pagi sepulangnya dari membeli kertas dan plastik untuk keperluan akomodasi acara di sana. Saiya melihat peserta satu persatu sudah mulai menunjukkan batang hidungnya yang mancung. Dengan cepat kilat saiya mandi close-up (hanya muka saja, hihi) dan buru-buru keluar menemui Pak Basuki yang kata Ka Zaki “nyariin ente tuh, pa Ihsan mana katanya..”.
Saiya yang ditunjuk sebagai  penanggung jawab kepesertaan dan imam safar lantas registrasi dan memberi Briefing sebentar kepada seluruh peserta di aula dalam bahwa bis sudah datang. Saiya memberikan keterangan bahwa tempat yang kita tuju bukanlah Ma’had Al-Yumni seperti yang tertera di Proposal, bukan juga Villa Orchid, tetapi pesantren milik ormas islam GARIS (Gerakan Reformis Islam). Saiya juga memberi arahan agar dalam perjalanan nanti kami semua menjaga sikap sebagai pemuda pemudi islam yang santun dan berakhlak, rajin menabung dan tidak sombong diri (gubrak!)
Pukul 11  lewat kami sampai di Pesantren MIK Jonggol , Cikalong Wetan dan segera saja kami ke atas untuk menunaikan Sholat Jumat berjamaah. Di sela waktu itu, sebagian peserta putri—putra juga ada sih, hehe—langsung ambil sikap imut untuk foto session setelah itu saya yakin langsung mereka unggah di Facebook. Sekarang ini memang banyak sekali orang pandai berbicara dan menunjukkan eksistensinya di facebook, hehe..nyatanya sih, di dunia nyata mereka ngga sebagus dan sehebat di FB tuh!! Melihat fenomena itu—anak-anak yang hobi foto-foto— saya yakin bahwa ngga ada manusia yang ngga narsis di muka bumi ini J.
Setelah Sholat Jumat, komandan lapangan AMI, Om Muslih yang sekaligus juga imam sholat jumat saat itu menyarankan agar kami membersihkan tempat di atas (Villa) untuk langkah antisipasi kalau-kalau acara memang dialihkan lagi di sana. Namun, komando awal adalah suara putusan ketua pelaksana, yaitu Bang Ujang Arif Rahman. Tapi beliaunya pasti sibuk di urusan teknis, maka saiya memutuskan untuk menelpon Mustain atau Ka Iwan.
Ketika itu Ka iwan meminta saiya sebagai PJ yang ditunjuk—demi mengisi waktu—untuk membentuk kelompok dan membagi peserta ke dalam 6 kelompok, sementara ianya sedang bertolak ke sini untuk menjemput peserta dan bertindak menjadi penunjuk jalan. Setelah diadakan her-registrasi dan inspeksi peserta, saya dibantu Agung sebagai sie acara –yang ikut datang dengan rombongan kolbak dan motor dari Citayam—juga membentuk tim. Komando selanjutnya diambil Agung untuk membentuk lingkaran, icebreaking, simulasi dan perkenalan (silaturahmi). Tidak lama setelah acara semi-formal itu, anak-anak sumringah melihat nasi bungkus menghampiri mereka. yummy….
Ada kesulitan penyebutan tim di kelompok putra yaitu tim Yarmuk, yang diketuai Ruhullah (Uul) yang sering kepleset jadi tim Nyamuk. Maklumlah sebutan Yarmuk tak sefamilier sebutan perang Badar, Uhud, Khandaq, namun apapun ia.. Perang Yarmuk itu juga merupakan perang (Ghozwah) yang diikuti nabi dan bukan sariyah (perang dimana nabi bukan panglimanya langsung). Saiya selaku panitia langsung ikut membaur dengan peserta makan bareng—biar lebih nikmat, asiknya rame-rame! Hehe— karena perut memang terasa berat oleh angin.
Setelah anak-anak tersenyum penuh kepuasan karena sudah memenuhi hajat mereka dan saiya pun sudah bersua ayah tercintaku dan sun tangan padanya, kami segera meluncur menuju Cipanas memutar jalur melalui Ciranjang. Menembus pekat kabut bebukitan Jonggol dan suhu minus yang sejuk. Pukul empat lewat kami sampai di Pasar Cipanas Gadog. Tepat berdiri megah di sebelah kami Istana Negara Cipanas yang berhadapan langsung nun jauh di sberang sana dengan barisan bebukitan Gadog. Saya langsung turun menemui Mustain yang saya lihat sedang sibuk bernegosiasi dengan si mamang yang fasih berbahasa planet, eh sunda, hehe. Dengan tampang digalak-galakin ka Didin ikut nimbrung dan dengan gaya premannya dia berhasil membujuk rayu sang supir “dua puluh rebueun heueuh mang, ieu keur lima angkot kumaha tah?” “ heueuh sok atuh” cek si mamang teh. Berakhirlah transaksi kilat itu. Diboyonglah kami menuju tempat lokasi acara.
Sesampainya, kami langsung disambut bak tamu (iya..iya emang tamu kan? hehe) .Putri menuju lokasi mereka dan putra pun menuju habitatnya. Set lokal Hidayatul ikhwan memiliki ruang-ruang cukup memadai, bahkan jika dibandingkan Pesantren kita di Walang. Ia terdiri dari 1 ruang besar untuk rumah tinggal sementara para peserta, aula utama yang mampu menampung hingga 200 orang lebih, di atasnya adalah aula masjid dan lantai tiganya mihrab, dua kamar mandi dengan air yang melimpah dan tak pernah surut karena ia merupakan karunia mataair Pegunungan Gede, subhanallah.Kami sholat ashar berjamaah. Setelah itu saiya dan Mustain mendata ulang keuangan yang masup di koridor masjid sambil menikmati panorama alam terhampar hijau di belakang sini. Subhanallah, inginnya saiya bermulan madu di sini nanti,,hmm (hehe, ckckck..menghayal saja kamuh!) Dalam pada itu, anak-anak sibuk memotreti saiya berkali-kali, kesannya saya dan Mustain ini bak seleb saja yah difoto-foto?? (hahaha).
Ditemani gorengan cap gehu dan kopsus, kami menghitung finansial acara LDK. Namun, kopsus itu harus segera diteguk habis sebab jika tidak Eman aka Sule siap menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada, eh maksud saiya sebab jika tidak udara dingin ini secepat kilat akan mendinginkan panas kopsus itu (heuheu). Halimun di langit Cipanas menyamarkan matahari yang mau sunset di pelataran langit barat. Mega nampak kelabu dan petala angkasa tak memerah saga. Kaki cakrawala terlihat gelap perlahan dan kami segera siap-siap untuk sholat maghrib.
Selesai maghrib dan makan, panitia briefing dan peserta dibantu tim kepala seksi rempong alias pembantu umum diketuai Kang Didin digiring menuju aula utama yang seketika saya datang sudah membuat saya takjub melihat tempatnya. Kenapa setting panggungnya sedemikian meriah? Padahal bukankah bahkan tim panitia yang punya tenaga kuda seperti Mustain saja baru sampai tadi? Oh ternyata mereka habis mengadakan acara rejeb-an (pantas saja). Setelahnya lalu dilanjutkan acara Opening Ceremonial LDK FSP MIK (nama ini cukup panjang sebab ianya adalah kolosal perdana di MIK). Opening dimeriahkan artis lokal dadakan, timnas (tim nasyid maksudnya, bukan tim nasional lho!!) Camp Hawariyun, Citayam besutan Ka Agung yang brilliant seraya berpampam-cuap di depan panggung sederhana itu.
Setelah isya materi pertama dibuka dengan dimoderatori oleh aku, eh saiya.. Alhamdulillah saiya pembukaan jadi moderator. Hal yang bahkan belum pernah saya lakoni kecuali jarang sekali. Apalagi melihat ketiga motivator, eh moderator lain yang semuanya sarjana (sarjana psikologi, sarjana kedokteran dan tarbiyah), but why not…saya juga sarjana! Sarjana jalanan, gubrak! Tapi mau bagaimana lagi, ini tugas saya sebagai sie acara jadi hadapi saja (Iwan Fals, red) dengan bismillah. Materi disampaikan Ustadz Muslim Arman tentang perjalanan napak tilas berdirinya yayasan Misi Islam juga uraian ustad Dedi dan Ustad Ujang tentang kondisi masyarakat islam di Cipanas.
Sekilas dalam keremangan lampu padam itu saya dengar peserta putri sampai berdecak-decak kagum. Yang membuat decak kagum dan histeris peserta dan audiens jelas bukan karena bintang tamu kita selebritis kayak UJE atau ustad Maulana atau saya terlampau narsis ketika difoto (sebab saya pun tidak berani memandang foto, karena hasilnya antara dua; bagus sekali atau jelek sekali! Lagi juga karena gelap mati lampu, huft..dan juga pastinya tidak ada yang mau ambil gambar foto saya gelap2 begitu kan?! hehe), tapi lebih kepada isi uraian yang dijabarkan Ustad Ujang tentang Lembah Karmel, Kristenisasi dan sebuah desa dimana Ma’had Al-Yumni berada. Tempat yang semula hendak kami pakai acara. Disana terdapat 2300 KK yang penduduknya 80%  dijamin kesahihannya sudah murtad dan kafir. Misi dari para Zending puritan itu telah mengalami kemajuan signifikan ketika Yayasan Karmel mengucurkan dana langsung imporan Vatikan. Desa kecil itu memiliki 17 gereja elit –jika dibandingkan dengan bentuk masjid dan mushola yang seadanya—dan hanya ada beberapa masjid berukuran mushola dan mushola berukuran gudang padi. Sangat mengenaskan. (untuk catatan perjalanan tentang ini perlu bab khusus, nanti kita bahas..)
Tadinya peserta masih mau mendengar narasi sang Ustad mantan veteran Jihad Poso itu. Tapi besok peserta harus sudah mengikuti acara lagi sejak pagi hingga malam, maka pengumuman istirahat saiya ini menjadi jawaban yang paling membuat senyum di wajah mengantuk mereka mengembang dengan uapan mulut yang menganga kian lebar, heheh.

Sabtu, 2 Juli .. Full day knowledge and education…
 Angin bukit dataran tinggi Cipanas minus beberapa derajat ketika kami bangun subuh dan memulai keberkahan hari dengan sholat subuh berjamaah. Selesai itu personil yang ditunjuk untuk kultum (Kuliah tujuh menit) ketika pembentukan tim kemarin segera maju. Yaitu Lukman yang membahas tentang Kristen dan ketuhanan Yesus yang absurd. Itu bacaan yang sering saya konsumsi. Namun saya tak bisa lama nyimak, sebab hape seketika berdering dan saya dipanggil koordinator sie acara. Briefing sebentar, lalu dibagi tim untuk penjemputan Ustadz Al-Khothoth (Sekjen FUI-ketum Suara Islam) dan Ustad Emon Badruzaman SH (Imam Jamaah). Karena yang tahu alamat dan sudah berhubungan intens dengan Ustaz Al-Khothtoth saya, maka saya yang ditunjuk untuk menjemput beliau. Sementara tim mobil yang dibawa Ka Pranata dan Yusuf menjemput uwa saiya, Pa Emon.
Kami segera merangsek ke Tanah Sareal, Bogor. Alhamdulillah, sunrise pagi di langit Puncak terlihat segar meski kurang nampak, tidak seperti jika dilihat dari alun-alun Suryakencana Gede. Pepohonan dan hamparan ladang teh Gunung Emas Puncak bertasbih seraya alam tunduk merunduk dalam ketaatan konstelasi putaran rotasinya. Namun kesejukan udara pagi Puncak tak  perlu membuat kami repot menyalakan AC mobil, sebab Ac yang disediakan Allah ini tak pernah habis, tak perlu dibeli dan kita bisa nikmati secara Cuma-Cuma. Dinginnya hembus angin yang masih terjebak di dalam mobil berkali-kali menampar-nampar pipi saya. Sejuk. Alhamdulillah, puji untuk-MU Allah!
Pak Kustomo dan saiya sempat kesulitan mencari alamat yang dikirim Ustadz Al-Khothtoth ke hape via sms. Namun berkat kami yang aktif bertanya setiap kali ada orang melintas, entah tukang ojek, tukang gorengan, tukang nasi uduk, sampai akhirnya ketika bertanya pada tukang ojek terakhir ternyata ianya adalah tetangga sang Ustadz, Alhamdulillah kami diantar olehnya. Sesampainya, saya turun menyelipkan beberapa lembar ke mamang ojek lalu dibalas senyum manis menawan sang mamang tukang ojek. Tapi nampaknya sang Ustad belum tiba. Setelah menunggu sebentar karena kata istrinya sedang mengisi kajian rutin di Wadi tiap bulan, beliau datang ketika kopi panas sudah tersaji di depan bang Deden yang ngantuk dan kami (saya dan pa Kustomo yang ngakunya ga doyan kopi ). Waah…ustad bilang habisi atau bungkus saja, jangan mubadzir! Siap, dan! J
Segera setelahnya kami kembali bertolak ke Cipanas. Antrean panjang dan padat jalan membuat kami mengambil jalan pintas ke Tapos tembusnya keluar Pasar Cisarua. Hape tak henti-henti berdering menanyakan konfirmasi Ustad, Alhamdulillah saya jawab sudah kami boyong. Komunikasi kami tak putus, dari pembicaraan teori bagaimana membawa Ustad ke Cipanas dalam satu jam di tengah suasana macet weekend sampai teknis yang kami tempuh jika kami terjebak macet total, tapi Alhamdulillah kemacetan itu tak begitu berarti sebab hanya tersendat di Pasar Cisarua dan pertigaan Ciawi menuju Puncak. Sepanjang perjalanan kami berbicara dengan Ustadz Al-Khothtoth mulai dari cerita Wadi, kredit motor sampe ujung-ujungnya ke walikota dan camat RawaBadak. (Binun, hehe)
Pukul 10 lewat kami sampai. Sayang sekali, saya tak bisa melihat materi Dr. Joserijal Jurnalis (Ketua Presidium Mer-C) dibawakan oleh Moderator ka Iwan, yang menurut semua peserta bagus sekali dan membangkitkan semangat kepemudaan mereka. Sebab saya tahu dokter ahli bedah tulang itu pasti punya banyak pengalaman di lapangan jihad dan berita-berita aktual dunia Islam. Untuk Hal ini saya jadi punya hikmah bahwa setiap anggota diharap sudah mengetahui posnya masing-masing dan disiplin untuk itu, jangan sampai pos itu ditinggalkan seperti ibroh Perang Uhud zaman Rasul, dimana regu pemanah meninggalkan pos karena tertarik ghonimah (materi dunia) sehingga Quraisy mengobrak-abrik barisan mereka dan tercerai, lalu kekalahan dan kehinaan menimpa kaum muslimin. I’tibar itu bisa diimplementasikan dalam hal apapun, termasuk dalam keadaan seperti ini.
Tapi yang terakhir kusimpulkan bahwa dokter mujahid ini sedang membangun proyek Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza menurut brosur yang  saya baca. Allahu akbar, maha besar Engkau yang melahirkan di tengah-tengah bobrok zaman ini pahlawan-pahlawan yang membanggakan Islam. Pupuk terus kesabaran dan keikhlasan kami, Rabb…
Setelah selesai materi, tibalah giliran Ustad Al-Khothoth dimoderatori sang ketua sie acara, ka Zaky. Sementara mendekati dzuhur kami mendapat kabar bahwa Pak Munarman (mantan ketua YLBHI kini TPM, dan aktif di An-Nasr Institute) masih terjebak di Ciawi. Namun, syukur ketika pukul 13.35 beliau datang. Meski tak sesuai peta proposal dan terkejar tenggat waktunya tapi acara ini tetap berjalan seru!
Ketika  Ustadz Munarman datang saya langsung mengajak beliau ke bawah dan sempat bersalaman dengan Ustadz Al-Khothoth ketika acaranya selesai. Ustad wong kito ini memang paling tidak senang dengan hal yang muluk-muluk dan bertele-tele seperti demokrasi, apalagi organisasi yang berbicara hal-hal teori tanpa praktek nyata. Terlebih dahulunya beliau adalah pengecer paham sekuler demokrasi dan sudah kembali ke pangkuan Islam yang hanif. Secara logika, orang yang sudah ditipu mentah-mentah dari janji-janji demokrasi sampah yang mengatakan bahwa dengan itu kemajuan dalam segala bidang bisa tercapai. Nyatanya apa yang dicapai malah berupa kemunduran ke titik nadir sejak kran reformasi digaungkan tahun 1998 ketika demokrasi menyusup di balik almamater kuning mahasiswa UI membawa virus baru, demokrasi. Menjatuhkan kekuasaan tiran otoriter Soeharto (Orde Baru) tapi justru mengangkat kultus hukum baru infiltrasi AS, democrazy.
Sudah pasti suatu waktu orang yang dikhianati itu takkan pernah memaafkan lagi apa yang sudah dijanjikan dari para pendusta agama itu. Seperti Umar Bin Khatab yang berputar haluan 180 derajat ketika mengetahui bahwa yang dijanjikan kejahiliyahan adalah sesuatu yang sama sekali bertentangan dengan kemanusiaan, nurani, logika, akal sehat dan pengungkungan pola berpikir merdeka. Lalu ia berada di jajaran mainstream barisan pejuang yang keras terhadap kekafiran. Maka, jadilah materi Ustad Munarman yang dimoderatori oleh Agung ini tidak membahas tentang apa itu sidang pleno, presidium sidang, bendahara, sekretaris dan tektek bengek lain. Tapi lebih pada aqidah dan ukhuwah yang solid.
Setelah sholat ashar berjamaah dan mendengarkan kultum dari perwakilan peserta, Reza, acara kembali dilanjutkan dengan dua pemateri sekaligus, Ustadz Dadang ZMK dan H. Encep Hernawan (Ketum GARIS, Sohibul bayt dan juga man of the day dalam acara LDK ini). Materi ini tak kalah seru sebab membicarakan strategi perlawanan terhadap kristenisasi dan Ruhul Jihad. Lagi-lagi, dibawakan oleh moderator dari Citayam, Agung.
Acara ini berlanjut dengan tausiyah Ustadz Emon BSH hingga jauh waktu senja. Setelah selesai peserta bersiap untuk sholat magrib berjamaah. Ada kendala masyghul yang dihadapi panitia acara mendengar kabar bahwa Pa Kustomo dan bang Deden terjebak macet di Jagorawi. Sejak pengantaran Ustad Al-Khothoth ke Wadi mobil mereka masih merayap di Jagorawi menuju Jakarta untuk menjemput Ustadz Deni dan Ustadz Susanto. Kami paham, memang kondisi jalan raya Puncak akhir pekan/ weekend sudah pasti begitu.
Hingga jauh beranjak masuk Isya tak ada tanda-tanda kabar baik datang. Mustain sempat kolaps dan bilang : “Ustad Deni kayaknya gagal, dicancel…” Kami briefing sebentar di sekertariat GARIS dan mengambil inisiatif bagaimana jika materi malam ditiadakan. Mengingat para peserta tentu lelah seharian menyerap materi dan duduk berjam-jam di aula utama. Maka, malam ini diputuskan tak ada acara. Acaranya hiburan santai dan harmonisasi tim dengan membuat yel-yel dan silaturahmi ulang agar kian hangat dan akrab antar peserta yang kami pilih acak dan dikombinasikan dengan seluruh peserta dari berbagai kelompok/ wilayah.
Di kantor utama, ide baru datang ketika rapat kecil dibentuk. Ka Iwan menghubungi Ustad Deni dan mengkonfirmasi bagaimana jika jadwal ustad diundur besok pagi bakda shubuh? Alhamdulillah, ustad Deni menyanggupi. Alhamdulillah, inilah hikmah yang Allah siapkan untuk panitia. Jika acara ustad Deni jadi mungkin peserta kian lelah karena materi akan selesai hingga jauh waktu larut malam, sebab hingga jam Sembilan malam saja Ustad Deni pun belum tiba.
Di aula utama setelah sholat isya berjamaah seluruh peserta menikmati santap malam. Diiringi seloroh dan canda tawa suasana hangat ukhuwah islam sebagai saudara amat terasa di sini. Tidak seperti kemarin yang masih agak kaku, belum kenal dan malu-malu. Kini semua peserta melebur dalam harmoni ukhuwah islamiyah. Para peserta diminta untuk menyebut nama saudaranya yang ditunjuk oleh Ka Iwan. Qordhowi, peserta termuda yang dipanggil “Bontot” paling menyita perhatian seluruh peserta, sebab hanya dia yang memanggil semua panitia dan ketuanya dengan sebutan “om”. Lagi-lagi, gelak tawa dan suara riuh pecah. Setelah mendengar kekompakan, keharmonisan dan kekreatifan kelompok membuat yel-yel dan saya diminta jadi tim penilai sekaligus juri, maka acara malam itu di-stop sebab besok dini hari pukul 2.30 pagi seluruh peserta sudah harus bangun untuk mengikuti acara muhasabah oleh Ustad Susanto.
Malam kedua udaranya kian menusuk lebih dari kemarin. Tapi, saiya dan teman-teman Cirebon masi santai-santai berbincang di depan aula utama dan kamar peserta. Masi belom mau tidur. Apalagi Ka Didin yang katanya tidur nomor dua yang penting rokok satu slot depan muka sama kopi, semua masalah beres, hehehew..bisa aje kang Didin!! Saat bangun tidurnya saya sampai bergetar menggigil hebat karena menahan dingin. Padahal saat tidur malam itu saya merasakan alas sejadah tebal masjid sebagai kasur empuk dan seprainya  jaket saya sebagai bumper menahan suhu tubuh agar tetap stabil cukup baik. Apakah mungkin ini efek dari badan saya yang sedang tak sehat, entahlah..hmm, semua peserta sudah tidur. So, let it go to dream.. dengan nama-MU, Allah, kami hidup dan kami mati!

Ahad, 3 Juli…Full day fighting and come back home…..
 Pukul 2.30 seksi pembantu umum alias sie rempong, Kang Didin dibantu konco-konco membangunkan seluruh peserta. Ada peserta yang saat dibangunkan melenguh “eemmhhh” lantas tidur lagi dan membuat kami yang baru bangun tidur tertawa lucu. Ada yang sangat kebluk, dibangunin pakai apapun tidak bangun. Jangankan disetel murottal, diguyur air dingin saja masih sukar untuk bangun, mungkinkah harus pake klakson kapal(??? Weleh,,weleh..). Kebluker’s digawangi sama anak-anak doyan rokok, kebanyakan anak-anak tongkrongan Walang seperti Boim, Ijul, Irbat dkk.
Setelah memastikan bahwa di aula atas atau masjid sudah sepi dan tak ada lagi yang sholat witir atau tahajud, maka acara muhasabah pun segera saya pimpin untuk dibuka. Kemudian saya persilahkan ustad Susanto, guru saya di Cisalak memberikan tausiyah muhasabahnya. Setelah acara dua hari yang penuh materi tibalah saat pendinginan jiwa dengan merenungkan nasib dan hakikat diri. Nasehat Ustadz Susanto sangat mengena di hati para Mujahid (peserta LDK) mereka terdengar menangis terisak-isak, sudah saya duga wajah mereka pasti berlinangan airmata.
Menjelang subuh, saya bertemu Ustad Deni sebab beliau baru datang pukul 12 malam tadi. Ustad Susanto meminta maaf pada saya, bahwa jadwalnya tidak tepat. Sungguh, saya yang malu bahwa kami yang sudah berbuat salah—karena menjemput tak tepat waktu disebabkan hal tak terduga, macet—namun dia yang pertama kali mohon maaf. ustadz Deni menanyakan pada saya. “Acara di bawah kan?” “bukan Ustad, di masjid!” jawab saya. Setelah sholat subuh dan kultum. Forum terakhir pun digelar, materi tentang ‘Peran Pemuda Islam’, kembali saya membawakan acara sebagai moderator terakhir. Kali ini meski materinya bakda subuh yang identik selalu membuat ngantuk, tapi karena yang membawakan Ustad Deni yang diselingi dengan bumbu2 humor, ibroh2 kontemporer dan bahasa yang nyatu banget sama kuping mustami’. Membuat audiens tetap semangat dan suasana masjid hidup.
Pukul 6.30 acara selesai, dilanjutkan pengumuman untuk operasi semut oleh ketua sie. acara, Ka Zaky. Kekompakan para mujahid untuk tetap bermu’amalah dan berta’awun dalam fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) sangat terlihat kompetitif ketika membersihkan dan mengerjakan tugas-tugasnya. Di sinilah kami diajari untuk hidup mandiri dan bergotong-royong sebagai sebuah organisasi kehidupan, sunah hidup memberi instrument pilihan dengan ditunjuknya kepala, badan dan bagian-bagiannya untuk menjalankan fungsi sesuai kapasitasnya, inilah inti dari tema perjalanan ke Cipanas, kepemimpinan dan organisasi. Bagaimana pun kita hidup dalam sekup kecil sebuah organisasi yang dipimpin oleh ketua/ kepala sebagai sentral yang mengatur keorganisasian/ kejamaahan. Memang bukan organisasi seperti yang dimaksud teori-teori sekuler tentang berkemimpinan dengan demokrasi yang crazy. Namun, kepemimpinan yang ditunjuk berdasarkan tanggung jawab personal dan amanah dalam membawa misi Islam.
Di tengah bekerja itu, saya yakin peserta masih kosong perutnya maka demi mengganjal perut karena udara dingin dan sejak bangun subuh perut mereka masih kosong belum sarapan. Maka, sambil menunggu makan pagi matang saya membeli gorengan gehu isi ‘karet’, tempe kering dan cau goreng (pisang jelek, eta teh basa endonesana, hihi) supaya kalori mereka maksimal untuk bekerja keras. Arifin dan kawan-kawan tampak semangat mengorek isi plastik yang saya bawa. Eman yang sudah dapat masih mencari kesempatan untuk memungut ulang gehu yang tersisa. Sampai saya sendiri sarapannya telat, tapi bisa makan juga sih hehe…bareng Mas Jamil dan Bang Obi. Huh, saya yakin Bang Afrianto dan Bang Doni sudah paling duluan sarapan di dapur sana, apalagi Imron, hahaha…(Positif Thinking)
Sebagian peserta juga sudah menodong2 saya meminta hape mereka. “Ka Ihsan, mau futu2 nih, mana donk!!” . Saya bilang “ sama Ka Didin”, anak-anak komplain mereka bilang “Yah, ka Didinnya masi tidur tuh ka!” wealah, glek!! Menjelang pukul 9, kembali peserta berkumpul di aula masjid ketika semua tempat sudah rapi dan bersih. Kali ini adalah acara diskusi, icebreaking dan sharing antara peserta-peserta dan peserta-panitia. Ka Iwan dan Agung memimpin acara ini sekaligus juga menerangkan bahwa kepemudaan Misi Islam punya website pribadi di bawah situs Blogger yaitu www.ammionline.co.cc lalu membangun jaringan komunikasi dengan saya sebagai humas atau Hujam atau pusat info dan data, apalah sebutannya itu.
Beranjak agak siang Agung mengumumkan kelompok yang terbaik yang tadi malam saiya nilai. Kriteria penilaian mulai dinilai dari kekompakan, keharmonisan, keakraban, dan kekreatifan dengan regunya. Maka, pemenangnya diraih oleh kelompok Badar sebagai juara 1, dengan Ardi sebagai ketua. Kelompok Khandaq juara 2, dengan Imam sebagai ketua. Dan kelompok Uhud juara 3, dengan Heru Legowo sebagai ketua. Kelompok yang lain juga baik dan kompak dalam berkoordinasi dengan adik-adiknya ketika mengikuti acara, seperti Ruhul, Prayitno dan Riyan.
Penutupan sebelum pulang, para mujahid semua bersalaman dengan salam membangkitkan semangat. Bahwa kita akan bertemu lagi, cepat atau lambat, baik dalam forum serupa atau di syurga abadi kelak. Amin…
Setelah memastikan semua barang sudah dibawa seluruh peserta dan akomodasi dari pusat sudah masuk ambulance kesayangan pesantren kita, dan saiya juga sudah mengumpulkan nametag dan plastik peserta barulah kami semua berangkat menuju lokasi yang kemarin sudah dijanjikan H. encep akan kita kunjungi…Alhamdulillah acara selesai..
Ya, Allah tetapkan kami untuk selalu di jalan-MU, karena kami ingin Kau selalu menjaga kami di setiap waktu kami. Genggamlah tangan kami dalam daya kekuatan-MU agar kami bisa tetap istiqomah hingga hanya maut saja memisahkan ruh dari jasad ini..(berlanjut di bagian kedua Catper Rihlah Fisabilillah AMMI to Cipanas).
Bersambung …

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum ...
    Ka Mana Lagii Nie Foto - Foto di Cipanasss ... ?

    BalasHapus
  2. @Jundi
    wa`alaikum salam ... insya Alloh nanti di uplod

    BalasHapus

Jakakumulloh sudah mengunjungi blog kami

yang tidak memiliki ID pilih Anonymous biar bisa berkomentar.
saling menasehati dalam kebenaran dan keshobaran.