Pages

Ads 468x60px

Photobucket

Labels

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jihad yang tidak kita inginkan

Dalam sebuah kesempatan, Syeikh Abu Basher (semoga Allah bebaskan dari tawanan musuh), menasehati para aktivis perjuangan dengan nasehat nasehat penting yang berangkat dari dunia pengalaman dan ilmu beliau, sebagai berikut:

1. Kami tidak menghendaki jihad yang timbul akibat kebosanan, tidak sabar atas kenyataan maka dia mencari kematian untuk beristirahat lari dari kebosanan.

2. Kami tidak menghendaki jihad karena hawa nafsu sesaat supaya dikatakan si fulan telah berjihad di sini dan disini, namun apabila nafsu itu lenyap, selesailah semua amal jihad itu tak bersisa.

3.Kami tidak menghendaki jihad karena ketergesa-gesaan, memanen buah sebelum waktunya matang. Barangsiapa tergesa-gesa dalam suatu amalan sebelum waktunya, diharamkan memperolehnya. Perkara jihad sesuatu yang agung tidak ada yang dapat teguh padanya kecuali seseorang yang sabar menanti.

4. Kami tidak menghendaki jihad karena alasan melarikan diri dari situasi sulit yang sedang dihadadapinya atau lari dari tugas mengemban suatu amanat ummat.

5. Kami tidak menghendaki jihad yang tidak menimbang maslahat dan mafasid (kerusakan), yang tidak menimbang mana prioritas dan mana yang harus diakhirkan. Tidak peduli pada perkara-perkara syari dan pemikiran matang.

6. Kami tidak menghendaki jihad yang pasukannya menuju medan perang sebelum melalui batasan minimum i’dad (persiapan), lalu mudahlah dikalahkan oleh musuh.

7. Kami tidak menghendaki jihad demi kemaslahatan thaghut lalim. Apabila mereka mengijinkan beragkatlah pasukan itu dan jika mereka tak mengijinkan mereka pun mematuhi.

8. Kami tidak menginginkan jihad yang anggotanya terdiri dari para thaghut dan thaghut, maka berloyalitas pada thaghut dan bermusuhan dengan thaghut.

9. Kami tidak menghendaki jihad untuk melengserkan kekuasaan thaghut agar digantikan dengan taghut lain, kekufuran dengan kekufuran bentuk lain, sistem negara yang rusak dengan sistem negara yang rusak lain.

10. Kami tidak menghendaki jihad hanya untuk meraih puncak cita-cita tertinggi mati syahid lalu tidak peduli dengan kelangsungan perjuangan selanjutnya, tidak peduli pada fase-fase pembangunan pondasi dan bangunan Islam serta peraihan tujuan.

11. Kami tidak menghendaki jihad yang buahnya dipetik oleh thaghut zalim, seakan-akan kita dijadikan tameng dan kematian sedang mereka dengan konspirasi yang mereka susun memetik buahnya. Tujuan serta planing mereka tercapai sedang taktik mujahidin hancur lebur.

Inilah macam-macam jihad yang tidak kami inginkan, tidak kami seru dan tidak pula kami dukung. Semoga dapat kiranya kita mengambil iktibar.

baca selengkapnya »»  

BERMULA DARI DIRI KITA

BERMULA DARI DIRI KITA.
abdulloh hanafi


"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu". Qs 17:14
Berani menyebut sebagai Islam berarti kita berani mengikuti seluruh perintah Alloh tanpa kecuali. Kita harus berani mengikuti atau mencontoh apapun yang pernah dialami oleh Rosululloh, termasuk ketegasan beliau terhadap kekafiran dan kelemah lembutannya dalam menghadapi beragam jenis manusia. Beliau yang bisa meruntuhkan singa padang pasir menjadi manusia kasih dan sayang.

Rosululloh juga mampu mengajak salman al-farisi kedalam keluarga Islam. Termasuk menghimpun seluruh warga dunia menjadi Islam. Hingga Islam tidak mengenal tanah air dan bangsa. Kita di ikat oleh syahadat.
Dari kaidah tersebut, kita harus berani menyatakan bahwa tahun kebangkitan Islam adalah tahun kebangkitan dan kesadaran umat Islam. Artinya, siapapun orangnya kalau dia mengaku Islam di tahun kebangkitan islam ini harus berani menentukan sikap Islami di hadapan masyarakat yang masih awam.

Menunjukan sikap Islami bukan hanya berani mencegah kemungkaran dengan keberingasan, tapi kita juga berani mengajak orang kepada yang ma`ruf dengan kelemah lembutan, tutur kata dan sikap kita.

Selama ini kita kehilangan sikap yang demikian. Untuk mendapatkannya kembali, hendaklah kita melaksanakan sholat tahajud, bangun pada sepertiga malam, sebagai mana Alloh berkata dalam QS. 73 :1-7 


    












1. Hai orang-orangy ang berselimut,
2. bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu Perkataan yang berat.
6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Tugas ini mulanya dibebankan kepada Rosululloh, bahkan seluruh isi Al-Quran mulanya hanya ditugaskan kepada beliau. Tapi dalam pelaksanaanya seluruh isi Al-quran untuk manusia, sebagai mana dalam penjelasan Al-quran, bahwa Rosululloh adalah Rahmat bagi seluruh alam.

 
Q:S 21 : 107 . dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Kalau sampai saat ini kita masih membaca Al-Quran dan menemukan ayat tersebut seyogyanya kita harus siap mengamalakan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Rosululoh SAW.

Rosululloh melakukan sholat malam, apakah kita melakukannya ? fungsinya jelas untuk menjalin hubungan yang lebih baik antara kita dengan Alloh, pencipta, penguasa, dan pemelihara seluruh alam.
Dalam sejarah kita masih ingat bahwa seluruh prilaku Rosululloh dan para shohabatnya mencerminkan kepribadian Al-Quran. Ketika `Aisyah ditanya tentang ahlaq Rosululloh, ia menjawab Al-Quran itulah akhlaq beliau.

Setiap hari kita membaca Al-Quran kemana saja kita pergi, seyogyanya kita harus menjadikan Al-Quran bukan untuk pamer yang akhirnya akan menimbulkan riya. Sepertinya kita sendiri yang islami orang lain tidak. Tapi hendaknya kita membawa kemana saja isi kandungan Al-Quran yang tercermin dalam tingkah pola hidup kita, sebagaimana Rosululloh dan para shohabatnya. Bahkan sangat memalukan kalau tingkah laku kita tidak mencerminkan akhlaq Al-Quran akibatnya hanya akan menimbulkan fitnah bagi islam itu sendiri. Kalau kita sudah memahami kandungan Al-Quran, kita sudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka dengan sendirinya Al-Quran sudah menjadi bagian dari hidup kita.

Al-Quran bukan lagi sebuah kitab yang harus kita pajang di rak buku, kita bawa kemana saja kita pergi, tapi orang akan melihat pada diri kita bersemayam semangat dan jiwa Al-Quran. Mampukah kita mengamalkan dan menjadikan Al-Quran sebagai bagian dari hidup kita ? insya Alloh.

Kalau kita sudah memulai dengan hidup berdasarkan Al-Quran, berarti kita sudah mengajak orang lain untuk mengikuti tata cara hidup kita. Insya Alloh dengan cara demikian masyarakan awam akan mengikuti pola kehidupan Al-Quran. Mereka akan hidup berdasarkan Al-Quran sebagai mana yang kita cita-citakan. Untuk itu, kita tidak perlu mencari konsep cara berda`wah yang baik dan benar, cukuplah kita mentaati seluruh peraturan dan perundang-undangan yang dibuat oleh Alloh dan meneladani apa-apa yang pernah di contohkan oleh Rosululloh SAW.

Mampukah kita mengubah strategi da`wah kita dari keberingasan kepada orang lain menjadi kasih dan sayang serta mengajak orang lain untuk menegakkan kalimatulloh ? insya Alloh.

Wallohu`alam    
baca selengkapnya »»  

MEMPERSIAPKAN GENERASI YANG TERBAIK

    • بسم الله الرحمن الرحيم
        
      MEMPERSIAPKAN GENERASI TERBAIK YANG  MENCINTAI ALLOH SWT



      أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
      يآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِيْ اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ .
      “Wahai orang-orang yang beriman, siapa saja yang murtad (menjadi kafir) di antara kamu dari dien-NYA (dari sistim islam) maka kelak kemudian Alloh akan mendatangkan suatu kaum (suatu generasi) yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai Alloh, yang bersifat lemah lembut terhadap orang-orang mu’min (dan bersifat) keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah karunia Alloh yang didatangkan kepada orang yang dikehendaki-NYA, dan Alloh Maha Luas (pemberian-NYA) dan Maha Mengetahui.”
      (QS : 5 {Al-Ma’idah} : 54)

      Keterangan : مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ
      يَرْتَدّ  : Murtad yaitu berbelok, sebelumnya beriman menjadi kafir, dzolim, munafiq dan fasiq.
      Penyebabnya : ialah tidak konsekwen kepada syari’at islam atau mengikuti sebagian sistim (hukum dan undang-undang) selain islam QS : 47 : 25-26.
      Karena mereka tidak henti-hentinya ingin merusak dan memusnahkan islam dengan segala cara.
      QS: 61 : 8. Oleh karena itu kita wajib berhati-hati terhadap mereka.
      ....فَسَوْفَ يَأْتِيْ اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّوْنَهُ....
      “….maka kelak kemudian Alloh akan mendatangkan suatu kaum (suatu generasi) yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai Alloh….” Muncul/datangnya suatu kaum tersebut tidak tiba-tiba atau mendadak begitu saja, akan tetapi tentu ada prosesnya, karena kalimat فَسَوْفَ (kelak, kemudian) itu ada prosesnya. Lalu bagaimana prosesnya ?. Prosesnya ada pada orang-orang beriman yang imannya tulus, ikhlas tidak tercampur dengan kekafiran, kedzoliman, kemusyrikan dan kefasikan. Dari orang-orang beriman tersebutlah akan melahirkan generasi, yaitu generasi yang dicintai Alloh. Di antaranya ialah tugas ibu-ibu muslim melahirkan generasi tersebut, dan untuk melahirkan generasi tersebut tentu ada syarat-sayaratnya, diantaranya adalah :

      1.    Generasi tersebut harus beraqidah (berkeyakinan) yang benar. Sebagaimana Luqman memberi nasihat kepada putra-putranya QS : 31 : 13, aqidah yang benar ialah yang tidak dicampuri dengan keragu-raguan QS : 49 : 15, dan sumber aqidah yang benar tersebut hanya Al-Qur’an QS : 3 : 103.
      2.    Generasi yang dicintai Alloh itu ialah yang beribadah kepada Alloh dengan ibadah yang ikhlas dan benar, ikhlas karena Alloh QS : 98 : 5 dan benar sesuai dengan contoh Rosul-Nya QS : 33 : 21 .
      Sebagaimana kita ketahui, definisi ibadah ialah :
      إِنَّ  الإِتِّبَاعَ وَ الطَّاعَةَ إِلَى اْلحُكْمِ وَالشَّرِيْعَةِ هُوَ الْعِبَادَةُ.
      “Sesungguhnya mengikuti dan mentaati hukum dan undang-undang (syari’at) itulah ibadah”.

      -Mengikuti maksudnya mengikuti Al-Qur’an yang dicontohkan Rosululloh SAW. QS : 7 : 3 dan 3 : 31
      -Begitu juga taat, yaitu taat kepada perintah Alloh yang dicontohkan Rosul-NYA. QS : 3 : 132
      -Yang di maksud hukum ialah hukum atau ketetapan Alloh QS : 6 : 57 dan 12 : 40
      -Dan undang-undang (syari’at) yang datang dari Alloh. QS : 42 : 13 dan 45 : 18

      Itulah ibadah kepada Alloh bukan sebatas sholat, zakat, shoum dan haji saja, akan tetapi seluruh aspek kehidupan adalah merupakan ibadah kepada Alloh jika mengikuti sistim yang disyari’atkan Alloh dan Rosul-NYA QS : 6 : 162, Karena jika taat sembarangan bisa di godok di neraka QS : 33 : 66-67

      3.    Generasi yang dicintai Alloh SWT itu ialah generasi yang cerdas yaitu generasi yang berilmu QS : 17 : 36. Sehingga Alloh mengangkat derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu dengan beberap derajat sesuai dengan keilmuannya. QS : 58 : 11

      - Generasi inilah yang harus dipersiapkan oleh kita khususnya ibu-ibu yang senantiasa mengasuh, membimbing putra-putrinya di rumah ketika ditinggalkan suami keluar dalam rangka mencari nafkah rumah tangga. Karena di dalam rumah tangga itu masing-masing mempunyai tugas, tugas suami adalah kepala rumah tangga sekaligus memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan tugas istri adalah menjaga rumah tangga suaminya selama suami tidak di rumah QS : 4 : 34, dan sabda Rosululloh SAW : Dari Ibnu Umar r.a :

      كُلُّكُمْ رَاعٍ  وَكُلُّكُمْ  مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَ اْلأَمِيْرُ رَاعٍ  وَ الرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ الْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ ... ( مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ )
      “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang amir adalah pemimpin dan seorang lelaki (suami) adalah pemimpin kepada ahli rumah tangganya dan seorang istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. (Bukhori dan Muslim)
      Do’a meminta keturunan yang terbaik menurut pandangan Alloh QS : 25 : 74 :

      رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ  أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
      “(Ya Alloh) Ya Robb kami berikanlah kepada kami pasangan-pasangan (jodoh-jodoh) kami dan anak-anak keturunan kami sedap di pandang (sejuk di hati) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”

      wallohu`alam
      ust. Asep Khohir 

      -       الحمد لله  -
baca selengkapnya »»